Dalam pandanganku, darahmu tiada beda dengan lumpur yang menjijikkan.
Invasi
Prosa dalam berbagai genre.
Dalam pandanganku, darahmu tiada beda dengan lumpur yang menjijikkan.
Pacaran dari zaman jebot, tapi ujungnya dia diijabkabulin orang lain. Nah, lho! Kasihan. Mungkin kamu bukan keping yang cocok buat dia?
Aku dan kamu, tak lain adalah aliran air yang saling mencari. Di matamulah kutemukan muaraku. Di matakulah kau akan menemukan muaramu.
Haruskah keibuan seorang ibu hanya dinilai dari kelemah lembutan bagai putri keraton? Oh, tentu tidak!
Seorang gadis kecil ingin mewujudkan mimpinya. Mimpinya tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin bisa keluar rumah, memiliki teman, dan membangun boneka salju bersama. Tapi dia tidak boleh. Kemudian, sebuah bantuan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Kukenang pertemuan pertama dan kedua kami. Biarkan aku mengkristalkannya meskipun kereta waktu terus menjauh. Dan aku menjadi sosok yang tertinggal, sampai kelak aku binasa.
Kalau aku tahu hidupku akan begini, sewaktu masih berada di dalam kandungan, aku mending memilih tidak dilahirkan.
Aku merasa telanjang. Aku merasa dia menelanjangiku tanpa menyentuh pakaianku sedikit pun. Pada akhirnya aku dan dia hanya diam. Mungkin memang lebih baik aku dan dia saling terpaut dan tak bersama.
Qiang Jie kecil menyukai musim dingin, sebab aromanya seperti aroma ibu.
Ma-ha-sis-wa. Satu kata yang dulu gue idam-idamkan, tapi setelah gue gapai, bikin gue geli. Kenapa nasib percintaan gue sebegini ampasnya?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.