SAAT AKU MELEBUR menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kamu memahaminya.
Day 9 – Epitome
SAAT AKU MELEBUR menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kamu memahaminya.
TANGAN-TANGAN BESAR akhirnya bergerak. Usai bersikap tabah selama bertahun-tahun, hari ini mereka lakukan eksekusi. Menyapu pergi dari almari, rak-rak buku berlaci, juga kulkas yang biasanya padat isi, sewujud nama tua penjaga kejujuran.
KABAR YANG KUSUGUHKAN di atas baki pada keluargaku ternyata beracun. Mentransfigurasi sosok ibu jadi Medusa.
TAWAMU TERBIT SAAT kuungkap ketidakrelaan. "Tenang. Kau kilat, dan aku guruhnya. Kita sepaket, tak terpisahkan."
ENTAH KAPAN TERAKHIR kali hal yang hangat berkunjung ke rumah Pi, selain air mata dalam berbagai macam warna.
RUPANYA TAK SELAMANYA ditampar omongan sendiri berakhir merugikan. Ada kalanya ludah mesti ditelan lagi biar kerongkongan tak terasa kering, kalau memang tidak ada air.
DARI RATUSAN KEINGINAN yang berkelindan, berenang-renang, dan jumpalitan dalam rongga benak Eka, 99% di antaranya diisi wajah Dwi.
AKU TAHU, ANANDA, konstelasimu tak terbilang jumlahnya. Maka kendati engkau terlahir dari bias sinarku sendiri, bukanlah hakku menuntutmu setia di sini, selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati.
PEREMPUAN DI BALIK JENDELA punya hobi tahunan: menambatkan atensi pada angkasa, menggumamkan sepatah doa yang selalu melibatkan langit.
"I’m Nobody! Who are you? Are you – Nobody – too?"
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.