Di malam Valentine, empat bulan lagi, salju yang jatuh di kaki Goldwin bakal ditumpahi merahnya darah.
Bloody Valentine
Di malam Valentine, empat bulan lagi, salju yang jatuh di kaki Goldwin bakal ditumpahi merahnya darah.
Seseorang pernah bertanya padaku, manusia macam apa yang membuatku iri, dan kujawab, “Aku iri pada manusia yang memiliki kapal.”
[Sebuah Lipogram] Inilah konsekuensi dari sebuah harapan mustahil, yang berlangsung dalam tiga babak.
Bara di tangannya akhirnya memantik. Hidup. Tumbuh dan menggelepar ditampar angin. Kemudian berkobar-kobar minta sambaran.
Satu tahun yang lalu, kamulah pusat perhatianku. Padahal rambut dan bajumu basah oleh tetesan keringat usai berlari menggiring bola hingga mencetak lima gol kemenangan.
"Memulai adalah gebrakan paling sulit," katamu di sela-sela senja yang mulai menua.
"Kau lihat?" Pertanyaannya mengudara. "Bahkan ketika kamu terluka, yang mereka lakukan cuma sibuk mengurus diri mereka sendiri.
Putih. Bersih. Di sekelilingmu tak ada apa pun kecuali dua hal tadi. Yang kau tahu cuma arah, dan kau kini tengah berjalan ke depan, kemudian sesuatu turun dari atas. Kau mendongak, menjemba sesuatu yang nyatanya sebuah buku. Tiada awan, matahari, atau angkasa biru. Yang ada hanya putih. Bersih. Kau memeluk bukumu. Membuka lembar pertamanya. Membiarkan … Lanjutkan membaca Once Upon a Time
Harusnya kau ingat. Bagaimana kau terbangun di pagi buta, dengan tangis memecah sunyi yang terbata. Mengoyak lelapku, menuntut ikut terbangun, demi menyingkirkan sisa-sisa serapan hidup yang menempel di bokongmu. Harusnya kau ingat, bagaimana kau datang menghampiriku, mengeja kata, mengemis bantuan untuk mengerjakan tugas-tugas yang tidak bisa kau selesaikan sendirian. Harusnya kau ingat, betapa tangan ini, … Lanjutkan membaca Yang Harusnya Kamu Ingat
demi kebangkitan rongga semesta, ada secarik asa yang dibangkitkan bersama ...
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.