Kukenang pertemuan pertama dan kedua kami. Biarkan aku mengkristalkannya meskipun kereta waktu terus menjauh. Dan aku menjadi sosok yang tertinggal, sampai kelak aku binasa.
Time Flies Fast
Kukenang pertemuan pertama dan kedua kami. Biarkan aku mengkristalkannya meskipun kereta waktu terus menjauh. Dan aku menjadi sosok yang tertinggal, sampai kelak aku binasa.
Kalau aku tahu hidupku akan begini, sewaktu masih berada di dalam kandungan, aku mending memilih tidak dilahirkan.
Aku merasa telanjang. Aku merasa dia menelanjangiku tanpa menyentuh pakaianku sedikit pun. Pada akhirnya aku dan dia hanya diam. Mungkin memang lebih baik aku dan dia saling terpaut dan tak bersama.
Ma-ha-sis-wa. Satu kata yang dulu gue idam-idamkan, tapi setelah gue gapai, bikin gue geli. Kenapa nasib percintaan gue sebegini ampasnya?
Saya adalah jiwa yang terasing dari peradaban karena ingin kabur dari kehidupan yang semestinya.
“Aku bisa melihat kepingan salju dalam bola matamu.”
Kamu lihat hujan malam ini? Aku adalah tetesan airnya yang jatuh tepat di atap rumahmu, berharap tempiasnya sampai ke hatimu. Namun kamu memilih lelap di bawah selimutmu, dan mengabaikan aku yang sedang mengetuk jendela kamarmu untuk mengabarkan rindu.
Gadis itu masih tidak menjawab, dan hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.
Tiada yang lebih indah bagi Illama untuk mewujudkan mimpinya, sekalipun dengan meninggalkan rekan-rekannya. Happy ending bagi semua. Selamat jalan, Illama.
Kou Sosuke gamang luar biasa. Tatapan Faldio ke arahnya seolah lelaki satu anak itu membencinya. Bukankah mereka pernah akrab sebelumnya?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.