Ada badai yang mengamuk dalam heningnya malam. Saat semua mata memilih pejam untuk beristirahat, badai itu menjerat satu entitas dalam sekarat yang makin lama makin berkarat. Kepadanya, terbanglah undangan bertengkar, melalui pikiran-pikiran; melandaskan teriakan-teriakan yang ia sendiri tak tahu asalnya dari mana. Mungkin dari kepalanya sendiri yang selalu berbisik berisik selagi mulutnya sibuk membungkam. Bising … Lanjutkan membaca Amuk
Lima Puluh Tangkai Mawar
Balasan untuk lima puluh tangkai mawar merah yang Kaola kirim pada Valentine, tiba di hari White Day. Balasan perdana untuk dua belas tahun masa kerjanya, yang membuat jantungnya nyaris copot.
Janjiku: Cara Memanggilmu Pulang
mari,
kugiring kau berkalih
dunia pasti 'kan menjumpai pulih
lewat racikan yang bersama kita pilih
Ibadah Perempuan
Wangi subuh pun tak membebaskan perempuan yang raganya tergolek di atas kesia-siaan ...
Nyanyian Semusim
Engkau tahu, pernah ada ... taut menuju laut yang sama
Kupikir Nyala Nyaliku Nyalang
Nyaliku menyala nyalang, tiap kusembur padamu geram dan garam yang garang
Sama Butuh Sama Untung
Yang kutahu, aku butuh dia, dan kurasa, dunia yang kejam dan sinting akan melunak dan jadi lebih waras kalau ia membersamaiku; ada di pihakku, di jalan ini.
Dekapan Bahagia
Bagaimana rasanya bahagia? Kata anak tetangga, aku belum pernah merasakannya karena belum pernah dipeluk. Jadi, bagaimana rasanya dipeluk?
Mimpi Dua Inci
Sosok itu adalah sewujud mimpi Farah di siang bolong. Mimpi yang seharusnya hanya jadi mimpi. Yang seharusnya hanya bisa dilihat dalam mimpi dan bayang-bayang. Tidak dalam jarak dua meja, apalagi dua inci.
Melepaskan, daripada Berbagi
Kamu tahu, kenapa dalam Supernova, yang jadi peretas kunci itu laki-laki, sementara peretas gerbangnya perempuan?

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.