Bara di tangannya akhirnya memantik. Hidup. Tumbuh dan menggelepar ditampar angin. Kemudian berkobar-kobar minta sambaran.
Burn It All
Prosa dalam berbagai genre.
Bara di tangannya akhirnya memantik. Hidup. Tumbuh dan menggelepar ditampar angin. Kemudian berkobar-kobar minta sambaran.
Satu tahun yang lalu, kamulah pusat perhatianku. Padahal rambut dan bajumu basah oleh tetesan keringat usai berlari menggiring bola hingga mencetak lima gol kemenangan.
"Memulai adalah gebrakan paling sulit," katamu di sela-sela senja yang mulai menua.
"Kau lihat?" Pertanyaannya mengudara. "Bahkan ketika kamu terluka, yang mereka lakukan cuma sibuk mengurus diri mereka sendiri.
Putih. Bersih. Di sekelilingmu tak ada apa pun kecuali dua hal tadi. Yang kau tahu cuma arah, dan kau kini tengah berjalan ke depan, kemudian sesuatu turun dari atas. Kau mendongak, menjemba sesuatu yang nyatanya sebuah buku. Tiada awan, matahari, atau angkasa biru. Yang ada hanya putih. Bersih. Kau memeluk bukumu. Membuka lembar pertamanya. Membiarkan … Lanjutkan membaca Once Upon a Time
Bagiku, lima adalah bilangan keramat. Selain karena aku hidup di negeri dengan lima butir asas negara, namaku pun terdiri dari lima huruf: Jihan, tanpa nama tengah pun nama belakang.
Sesungguhnya, aku, Lilian, Widya, dan seluruh manusia di muka bumi ini sama. Kita candu akan hal-hal tertentu.
Bukankah, rasa takut adalah hal yang manusiawi? Orang-orang takut pada minimal satu hal dalam hidup mereka, dengan kadar yang beragam.
Tiba-tiba terdengar derit dari kepalamu. Tiiit… tiiit… tiiit… tiiit… Warning! System failure …
Kau telanjang. Tanpa kepura-puraan. Hanya di depanku.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.