Keesokan harinya, kutemukan mulutku ada di antara ribuan mulut pemuntah gula. Sedang aku yang asli terseok di keramaian, ingin berteriak pada siapa pun untuk tidak turut tergoda, tapi sudah tak lagi punya suara.
Day 11 – Mulut
Keesokan harinya, kutemukan mulutku ada di antara ribuan mulut pemuntah gula. Sedang aku yang asli terseok di keramaian, ingin berteriak pada siapa pun untuk tidak turut tergoda, tapi sudah tak lagi punya suara.
TAK TIK TUK bukan bunyi sepatu kuda. Melainkan suara pertempuran. Sudah bukan lagi masanya adu jotos langsung jika apa pun bisa diselesaikan serba virtual. Bahkan ada yang meramalkan, perang dunia kedelapan akan dilaksanakan para jari.
SAAT AKU MELEBUR menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kamu memahaminya.
TANGAN-TANGAN BESAR akhirnya bergerak. Usai bersikap tabah selama bertahun-tahun, hari ini mereka lakukan eksekusi. Menyapu pergi dari almari, rak-rak buku berlaci, juga kulkas yang biasanya padat isi, sewujud nama tua penjaga kejujuran.
KABAR YANG KUSUGUHKAN di atas baki pada keluargaku ternyata beracun. Mentransfigurasi sosok ibu jadi Medusa.
TAWAMU TERBIT SAAT kuungkap ketidakrelaan. "Tenang. Kau kilat, dan aku guruhnya. Kita sepaket, tak terpisahkan."
ENTAH KAPAN TERAKHIR kali hal yang hangat berkunjung ke rumah Pi, selain air mata dalam berbagai macam warna.
RUPANYA TAK SELAMANYA ditampar omongan sendiri berakhir merugikan. Ada kalanya ludah mesti ditelan lagi biar kerongkongan tak terasa kering, kalau memang tidak ada air.
DARI RATUSAN KEINGINAN yang berkelindan, berenang-renang, dan jumpalitan dalam rongga benak Eka, 99% di antaranya diisi wajah Dwi.
AKU TAHU, ANANDA, konstelasimu tak terbilang jumlahnya. Maka kendati engkau terlahir dari bias sinarku sendiri, bukanlah hakku menuntutmu setia di sini, selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.