KOTA KITA ADALAH kota mati. Di lorong-lorong yang gulita kutemui seonggokan sampah dari almari memorimu. Mereka yang dulunya sering kautimang sayang, kini usang usai kautendang buang.
Day 15 – Gerimis
KOTA KITA ADALAH kota mati. Di lorong-lorong yang gulita kutemui seonggokan sampah dari almari memorimu. Mereka yang dulunya sering kautimang sayang, kini usang usai kautendang buang.
INFO PENTING! Sudah Saatnya Kita Kembalikan Senyum ke Muka Bumi! Fakta: Nenek Moyang Kita Dahulu Murah Senyum! Apa Itu Senyum?
DI DALAM PERUT Surti ada bom waktu. Semuanya akan terbongkar, cepat atau lambat. Jadi, daripada segalanya terlambat, ia kumpulkan ayah dan ibunya sambil menangis tersengguk-sengguk.
INI KALI KESEKIAN aku melihatnya di tengah ingar-bingar. Kami tak saling kenal. Hanya sekian perjumpaan itu mendorongku menyunggingkan senyum dari jauh. Ia membalas.
Keesokan harinya, kutemukan mulutku ada di antara ribuan mulut pemuntah gula. Sedang aku yang asli terseok di keramaian, ingin berteriak pada siapa pun untuk tidak turut tergoda, tapi sudah tak lagi punya suara.
TAK TIK TUK bukan bunyi sepatu kuda. Melainkan suara pertempuran. Sudah bukan lagi masanya adu jotos langsung jika apa pun bisa diselesaikan serba virtual. Bahkan ada yang meramalkan, perang dunia kedelapan akan dilaksanakan para jari.
SAAT AKU MELEBUR menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kamu memahaminya.
TANGAN-TANGAN BESAR akhirnya bergerak. Usai bersikap tabah selama bertahun-tahun, hari ini mereka lakukan eksekusi. Menyapu pergi dari almari, rak-rak buku berlaci, juga kulkas yang biasanya padat isi, sewujud nama tua penjaga kejujuran.
KABAR YANG KUSUGUHKAN di atas baki pada keluargaku ternyata beracun. Mentransfigurasi sosok ibu jadi Medusa.
TAWAMU TERBIT SAAT kuungkap ketidakrelaan. "Tenang. Kau kilat, dan aku guruhnya. Kita sepaket, tak terpisahkan."
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.