Bagi perempuan yang kini terbaring dan bersiap memulai ritual, tak ada yang indah kecuali kenangan. Tak ada seorang pun yang tersisa di dunia untuk dia panggil, kecuali mereka yang hanya diawetkan dalam ingatan.
Mimpi
Bagi perempuan yang kini terbaring dan bersiap memulai ritual, tak ada yang indah kecuali kenangan. Tak ada seorang pun yang tersisa di dunia untuk dia panggil, kecuali mereka yang hanya diawetkan dalam ingatan.
Kemarin, seseorang dari entah, datang ke desanya yang nyaris ludes ditelan Bumi. Bagai Mesiah, ia menawarkan keselamatan bagi siapa pun yang percaya.
Katanya seorang anak manusia terlahir ke duni tanpa dikaruniari kegentaran, selain rasa takut naluriah pada suara keras dan kejatuhan.
Kukuh hatinya memberontak. Tidak. Ia ingin putri dan dirinya sendiri menyesapi kehidupan ini. Ia ingin menyaksikan putrinya keluar dengan selamat dan tertawa-tawa menerima boneka. Menerima rapor nilai yang sempurna. Menerima sepeda baru yang mengkilap. Menerima ponsel yang paling anyar. Memperkenalkan pacar kepadanya. Mendapatkan gaji pertama. Menikah dengan lelaki yang baik. Memiliki anak dan hidup dengan sempurna.
Aku adalah burung bulbul yang berusaha berontak dari sangkar emas. Seorang lelaki dengan 500 mawar merah yang kulihat pertama dalam pengembaraan liarku menjadi tujuanku kemudian. Olehnya, aku diajari bernyanyi—kau tahu, seekor bulbul bisa menyanyikan 300 lagu cinta berbeda untuk pasangannya.
Janda memang menggoyahkan iman. Apalagi setelah Toni melihat sendiri penampakannya ketika lewat di depan mata. Liur Toni sampai tumpah, saking tak sadar mulutnya menganga.
"Semua orang bodoh. Orang bodoh yang mengatai bodoh pada seseorang bodoh yang mengkritik orang bodoh. Terlalu sibuk mengulik kebodohan di luar sampai luput dari kebodohan di dalamnya. Tak menyadari bahwa ketidaksadaran akan kebodohan itu nyatanya kebodohan sendiri."
Pada malam usai kupu-kupu yang didongengkan Ibu mengepakkan sayapnya ke mata Je dan memaksanya jatuh dalam kantuk yang sayup, diam-diam Ayah menyusup masuk, membawa bubuk gula untuk dituangkan ke dalam jantung putrinya.
Siapa pun yang pertama menelurkan ide berdusta dan perkumpulan keluarga sudah tewas hari itu juga. Dibūnúh Nona dalam kepalanya, dengan berbagai cara màti.
Keesokan harinya, nama Deviana menjadi topik terpanas yang diobrolkan di grup roleplay-nya. Inti semua beritanya demikian: Deviana si Calon Presiden, ternyata adalah Amalia, Belina, dan Chandrina.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.