Di tepi telaga, seorang lelaki mengais biji-biji kopi masa lalu dari senja yang melarung bersama abu istrinya.
Kopi Telaga
Di tepi telaga, seorang lelaki mengais biji-biji kopi masa lalu dari senja yang melarung bersama abu istrinya.
Kedua perempuan dengan nasib berbeda lantas dipermainkan tangan takdir segera setelah mereka menyeberangi dunia.
Desas-desus sekitar tentang kelakuannya yang minus dari standar mereka saat ini hanya seperti ketukan hujan yang ricuh pada genteng.
Sebab kepongahannya membuat dia tak percaya. Maka, datanglah kehancuran yang dinafikannya.
Perempuan itu iri pada ikan yang bebas berenang-renang tanpa perlu uang. Ketika ikan mengajaknya ikut serta, dia merasa seperti pulang.
Sepasang mata yang mengintip di tengah kesunyian malam itu kutahu adalah milikmu. Milikku. Demi bisa lahir baru, kuenyahkan engkau bersama abu.
Sejauh mana kita hendak terbang? Sementara di tepian tebing, bisa kita lihat seorang lelaki tua menggelandang dan terbuang.
Di dunia tanpa kabut dan capung, sosok ibu peri pun berevolusi.
Demi mengantarkan mentari pertama pulang ke haribaan, kau rela menanggung beban seberat dunia.
Jangan jadi pundak tempat bersandar bisa kau pun mencariku sebagai pundak untuk kau bersandar.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.