Demi mengantarkan mentari pertama pulang ke haribaan, kau rela menanggung beban seberat dunia.
Pulang
Demi mengantarkan mentari pertama pulang ke haribaan, kau rela menanggung beban seberat dunia.
Jangan jadi pundak tempat bersandar bisa kau pun mencariku sebagai pundak untuk kau bersandar.
Menu Malam Ini: Sepotong Janji Palsu dan Basa-basi. Kemualan dan kemuakanmu membuatmu memilih untuk tidak bisa makan selamanya.
Empat kota tua dipelintir jadi satu rumah. Engkau menyinggahinya saat jauh malam; saat kesadaran jatuh dimakan lelap.
Segalanya selalu dimulai dari ketiadaan. Ketiadaan cahaya; gelap. Ketiadaan suara; senyap. Ketiadaan kesadaran; renyap.
burung-burung terbang rendah menjatuhkan duka di atas atap rumah tetangga ...
dadamu yang merongga lima adalah muara, air mata dari segala mata air ...
kala itu, banyak dedaunan hijau berjatuhan mereka asing akan petang ...
ada senja yang menggelantung di katamu, sebentar lagi akan turun malam. aku terjebak antara indah dan pisah. harapan untuk tetap dalam jingga ini jelas hanya kosong saja. gelap yang sepi akan membungkusku lagi dan lagi. yang ditangguhkan pun tetap akan jumpa pada kelanjutan. di situ kau ajarkanku bahwa warna itu nisbi. merah belum tentu rekah … Lanjutkan membaca senja
kita bicara tanpa kata hanya ada getar getir lewat tatap mata ...
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.