ENTAH KAPAN TERAKHIR kali hal yang hangat berkunjung ke rumah Pi, selain air mata dalam berbagai macam warna.
Day 5 – Kopi
Fiksi yang melibatkan penyiksaan karakter secara emosional.
ENTAH KAPAN TERAKHIR kali hal yang hangat berkunjung ke rumah Pi, selain air mata dalam berbagai macam warna.
DARI RATUSAN KEINGINAN yang berkelindan, berenang-renang, dan jumpalitan dalam rongga benak Eka, 99% di antaranya diisi wajah Dwi.
PEREMPUAN DI BALIK JENDELA punya hobi tahunan: menambatkan atensi pada angkasa, menggumamkan sepatah doa yang selalu melibatkan langit.
Sejak ditinggal ibunya pergi melanjutkan kehidupan di bawah tanah dan alam lain yang kekal, Mala kehilangan semangat hidupnya sendiri. Ibunya adalah tonggak yang menahannya agar tidak jatuh. Kini, usai tonggak itu lenyap, Mala pun ambruk jadi mayat hidup. Kamar menjadi tempatnya mendekam sepanjang hari, membaca buku yang berulang kali dibaca selama bertahun-tahun, atau duduk memeluk … Lanjutkan membaca Malapetaka Malaikat
Sehelai surat retak telah kukirimkan padamu, usai kulewati sekian lama momen menanti perubahan.
Sebuah kafe menawarkan masa lalu dengan harga yang fantastis. Dinding kaca besar. Irama musik jazz. Aroma cokelat, dan kopi, dan teh. Mereka berkolaborasi bersama waktu, menghadirkan figur-figur masa lalu.
Sebab yang dicarinya adalah hidup. Maka kuberikan itu kepadamu. Yang lebih kekal. Lebih pejal.
Hidup kita hanya mengandung tiga babak. Di sana, lakonku adalah yang kaupuja, kaulupakan, lalu kaubuang.
Pada bundaran yang bertengger apik di dinding kamarnya, ada dua puluh empat 'dia' mengitari angka-angka.
Heran, sungguh heran. Puisiku tak pernah sampai diantarkan kepadamu. Entah angin telah berubah jadi tukang pos yang tak lagi amanah, atau justru hatimu yang sudah pindah rumah.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.