Ternyata ada banyak perubahan yang harus diantisipasinya. Perasaan yang timbul tenggelam. Orang-orang yang datang dan menghilang.
#26 Implikasi Waktu
Prosa dalam berbagai genre.
Ternyata ada banyak perubahan yang harus diantisipasinya. Perasaan yang timbul tenggelam. Orang-orang yang datang dan menghilang.
Imajinasinya yang terlalu aktif mungkin menanamkan pemikiran futuristis, bahwa akan sulit rasanya menjalin hubungan dengan kepribadian Saka yang keras. Memberinya sugesti ia-takut-pada-Saka.
Seharusnya, Martha ikut bahagia. Seharusnya. Akan tetapi, gadis itu tak bia menolak fakta. Ada beberapa serat keberatan yang tetap bercokol di dada.
Mungkin saja, sinar Sang Matahari mampu mencegah Saka memunculkan sisi gelapnya. Menelusup ke dalam, menghangatkan hati lelaki itu, yang mudah sekali membeku.
Manusia adalah makhluk kompleks. Apa-apa yang rumit bisa dijadikannya lebih sederhana. Apa-apa yang sederhana malah disulapnya jadi rumit. Seperti hormon yang diterjemahkannya sebagai perasaan. Seperti perasaan yang diterjemahkan sebagai kekang.
Terkutuklah dirinya. Terkutuklah kehendak hatinya yang kerap berubah-ubah. Terkutuklah kebebasan yang dia terapkan pada dirinya sendiri, yang justru menjadi senjata untuk melukai orang lain, sekalipun itu terjadi tanpa dia sadari.
Ketika pintu itu menutup, Martha merasa atmosfer dalam ruangan bertambah berat sekian ratus atm. Syoknya masih belum surut, dan kini, ia dibiarkan untuk menyelesaikan semua.
Hening yang mengudara di sana agak lama. Hanya mata-mata yang saling lirik penuh konspirasi, ketika akhirnya untuk pertama kali sejak sekian menit berada di sana, Martha mengajak Saka bicara.
BADAI—ketika Lautan mengamuk, angkasa yang semula biru pun berubah kelabu.
Ada yang retak, yang berjarak, tapi bikin sesak. Setelah perasaan Saka yang kemudian harus ia hadapi dengan pura-pura bersikap biasa, ini kedua kalinya Martha mengutuk kadar kepekaannya.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.