Kata Ibu, purnama menculik seorang anak kemarin. Lalu keluarga si anak menangis dan mengutuk sekeliling kompeks sebelum melapor pada polisi.
Purnama
Prosa dalam berbagai genre.
Kata Ibu, purnama menculik seorang anak kemarin. Lalu keluarga si anak menangis dan mengutuk sekeliling kompeks sebelum melapor pada polisi.
Tangannya terulur ke bagian tengah dari deret bulan di kalenderku, dan tiba-tiba saja jemari itu mencaplok seekor tikus got berbau busuk, tapi berdasi. Suara decapannya terdengar lebih jelas daripada deru mesin pesawat. Serpih sobekan kalender mencelat jatuh dari mulutnya yang asyik memamah.
Kami seka penderitaannya dengan belas kasih, dan Kami tuang ke mulutnya; hijau yang berseri. Mata yang semula mengatup sekarat pun mulai terbuka.
Ketika memunguti serpihan itu sendiri untuk diperbaiki kembali, perempuan itu terenyak. Ekor matanya menangkap satu fakta: mata si lelaki rupanya masih terlekat, tertutup rapat.
Sosok Kakek berjongkok di lantai yang bersimbah darah. Mulutnya sibuk memamah, suara decapannya terdengar menjijikkan, sedang Adik meringkuk di bawah, kehilangan tangan dan mungkin pula nyawa.
Sejak malam di mana ibuku memilih keluarga baru bernama Keabadian, aku dan Ayah turut bercerai dan membentuk keluarga baru sendiri-sendiri.
PADA JULI 2021, telah saya rampungkan 60 potong cerita dari 30 prompt, berkat ajang menulis F'MEUS #3. F'Meus adalah sebuah akronim dari Festival Menulis AstraFF. SEMENTARA ITU, Desember 2021 saya isi dengan mengikuti event menulis yang diadakan Ellunar Publisher di Instagram selama 30 Hari. Tajuk program ini adalah "Gerimis" (Gerakan Rutin Menulis).
Mereka pikir, empat botol bir, sebungkus rokok tembakau dengan asapnya yang terkepul-kepul merubungi mereka sudah membuat malam ini cukup panas. Rupanya selalu ada hal yang lebih di atas segala sesuatu.
Andai apa-apa mengenai mencintai tidak sekacau pasar pagi, yang membuat seseorang terdesak dan kehilangan sandal sebelah kiri hingga mustahil tak terluka saat mencoba lari.
Sebab, meski warna-warna berubah, alam dan semesta tetap utuh. Dan, Angkasa tetap menyelubungi bumi, kendati tak ada yang mengikat kakinya langsung selain gravitasi bernama kasih sayang.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.