Siapa pun yang pertama menelurkan ide berdusta dan perkumpulan keluarga sudah tewas hari itu juga. Dibūnúh Nona dalam kepalanya, dengan berbagai cara màti.
Liur
Fiksi yang melampaui batas logika karena menggabungkan fantasi dan realita dalam satu manifestasi kehidupan.
Siapa pun yang pertama menelurkan ide berdusta dan perkumpulan keluarga sudah tewas hari itu juga. Dibūnúh Nona dalam kepalanya, dengan berbagai cara màti.
Seharusnya ia berjingkrak senang seperti karyawan lain yang memenuhi ruangan. Kenyataannya, batinnya malah didera keraguan. Ini takkan membuat ibunya bahagia, sekalipun sekarang sumber uang sudah dekat. Maka kadar kegembiraannya sendiri pun pupus dilahap kekhawatiran.
Di dusun tempat aku ditugaskan selanjutnya, ada tempat melahap bayangan yang berdiri di kaki bukit. Anak-anak di sana menyebutnya 'sekolah'.
Tangannya terulur ke bagian tengah dari deret bulan di kalenderku, dan tiba-tiba saja jemari itu mencaplok seekor tikus got berbau busuk, tapi berdasi. Suara decapannya terdengar lebih jelas daripada deru mesin pesawat. Serpih sobekan kalender mencelat jatuh dari mulutnya yang asyik memamah.
Kami seka penderitaannya dengan belas kasih, dan Kami tuang ke mulutnya; hijau yang berseri. Mata yang semula mengatup sekarat pun mulai terbuka.
Ketika memunguti serpihan itu sendiri untuk diperbaiki kembali, perempuan itu terenyak. Ekor matanya menangkap satu fakta: mata si lelaki rupanya masih terlekat, tertutup rapat.
PEREMPUAN ingin belajar angka dan kata, tapi langkahnya diredam aksi pinangan dan siksa sang saksi. Katanya, ini demi keriput orang tuanya yang berutang budi.
BINTANG-BINTANG BERJATUHAN dari matanya, membelah gulita. Jemari Mu memungut mereka untuk ia gantung di plafon, dinding, lemari, dan cermin.
KOTA KITA ADALAH kota mati. Di lorong-lorong yang gulita kutemui seonggokan sampah dari almari memorimu. Mereka yang dulunya sering kautimang sayang, kini usang usai kautendang buang.
Keesokan harinya, kutemukan mulutku ada di antara ribuan mulut pemuntah gula. Sedang aku yang asli terseok di keramaian, ingin berteriak pada siapa pun untuk tidak turut tergoda, tapi sudah tak lagi punya suara.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.