SAAT AKU MELEBUR menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kamu memahaminya.
Day 9 – Epitome
Fiksi yang melampaui batas logika karena menggabungkan fantasi dan realita dalam satu manifestasi kehidupan.
SAAT AKU MELEBUR menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kamu memahaminya.
TANGAN-TANGAN BESAR akhirnya bergerak. Usai bersikap tabah selama bertahun-tahun, hari ini mereka lakukan eksekusi. Menyapu pergi dari almari, rak-rak buku berlaci, juga kulkas yang biasanya padat isi, sewujud nama tua penjaga kejujuran.
KABAR YANG KUSUGUHKAN di atas baki pada keluargaku ternyata beracun. Mentransfigurasi sosok ibu jadi Medusa.
ENTAH KAPAN TERAKHIR kali hal yang hangat berkunjung ke rumah Pi, selain air mata dalam berbagai macam warna.
Nama desamu adalah Desa Lara. Tempat berpusatnya duka dari seluruh penjuru dunia.
Sebab segalanya mungkin tidak akan sama, tapi dari puing-puing reruntuhanlah manusia membangun kota.
Sebuah kafe menawarkan masa lalu dengan harga yang fantastis. Dinding kaca besar. Irama musik jazz. Aroma cokelat, dan kopi, dan teh. Mereka berkolaborasi bersama waktu, menghadirkan figur-figur masa lalu.
Di tepi telaga, seorang lelaki mengais biji-biji kopi masa lalu dari senja yang melarung bersama abu istrinya.
Air mata adalah telaga yang tak pernah mati. Dari sana kita curah hujan untuk memadamkan api di hati.
Waktu takkan menunggumu. Jadi, mengapa engkau masih tabah menunggunya peduli?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.