"Ibuku Nawang Wulan!" Kalimat itu selalu dilantangkan seorang bocah laki-laki. Setiap pukul delapan pagi, ia keluar dari gubuk berdinding bambu dan beratapkan rerumbai. Menuturkannya pada semua yang dicegatnya saat lewat.
Nawang Wulan
"Ibuku Nawang Wulan!" Kalimat itu selalu dilantangkan seorang bocah laki-laki. Setiap pukul delapan pagi, ia keluar dari gubuk berdinding bambu dan beratapkan rerumbai. Menuturkannya pada semua yang dicegatnya saat lewat.
Di depan semangkok acar dan roti kering saat aku berumur empat, Ibu bilang, aku memelihara sebuah lentera. Aku disebutnya mukjizat luar biasa.
Kata Ibu, purnama menculik seorang anak kemarin. Lalu keluarga si anak menangis dan mengutuk sekeliling kompeks sebelum melapor pada polisi.
Tangannya terulur ke bagian tengah dari deret bulan di kalenderku, dan tiba-tiba saja jemari itu mencaplok seekor tikus got berbau busuk, tapi berdasi. Suara decapannya terdengar lebih jelas daripada deru mesin pesawat. Serpih sobekan kalender mencelat jatuh dari mulutnya yang asyik memamah.
Kami seka penderitaannya dengan belas kasih, dan Kami tuang ke mulutnya; hijau yang berseri. Mata yang semula mengatup sekarat pun mulai terbuka.
Ketika memunguti serpihan itu sendiri untuk diperbaiki kembali, perempuan itu terenyak. Ekor matanya menangkap satu fakta: mata si lelaki rupanya masih terlekat, tertutup rapat.
anak-anak mencintai gula-gula sampai gua merekah di gigi pun tidak apa ...
Sosok Kakek berjongkok di lantai yang bersimbah darah. Mulutnya sibuk memamah, suara decapannya terdengar menjijikkan, sedang Adik meringkuk di bawah, kehilangan tangan dan mungkin pula nyawa.
... tuhan beku dalam saku celana para pandita ... sebentar lagi Ia pecah dan bilah dan bilang, "panas lebih baik bagimu, Pendusta!" ...
Sejak malam di mana ibuku memilih keluarga baru bernama Keabadian, aku dan Ayah turut bercerai dan membentuk keluarga baru sendiri-sendiri.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.