OLEH-OLEH DARI DUBAI yang kamu bawa kutimang dengan semringah. Sekalipun sebetulnya, aku tidak begitu memerlukan pun menginginkannya. Aku hanya senang kamu kembali dengan selamat.
Kejatuhan
OLEH-OLEH DARI DUBAI yang kamu bawa kutimang dengan semringah. Sekalipun sebetulnya, aku tidak begitu memerlukan pun menginginkannya. Aku hanya senang kamu kembali dengan selamat.
AKU MENGERUTKAN HIDUNG. Seberkas aroma yang terhidu mengusikku. Memunculkan letusan di kepala, seolah sehelai benang telah putus tiba-tiba.
‘NAMA: AI. Umur: 10 tahun. Cita-cita: jadi orang dewasa.'
KUINGAT KAKAK PERNAH MENGGUMAM, "Berarti, sepertinya Ayah memang pake sepatu hak."
SUATU HARI, AKU MENEMUKAN anak-anak dalam tubuh Mak.
DI TIKUNGAN KEENAM, aku akan menemui anak tangga pertama.
AKU MENYIBAK SELIMUT dan yang kudapati adalah gigil yang ganjil. Padahal ada bau pembakaran dari sisa asap tembakau yang terjebak dalam kamar semalaman.
KUTAHU, HIDUP INI DIGELUNG DURJANA bernama waktu. Yang menciptakan tangan-tangan tak tampak untuk menjauhkan taut atau menautkan yang jauh. ‘Ada’ bisa saja disulapnya ‘tiada’, sebab tiada yang akan selamanya ada.
Jauh sebelum peperangan pecah dan meruntuhkan mereka hingga harus hilang dalam sejarah, tanah di tengah-tengah pulau surgawi pernah punya cerita yang indah.
SEUMUR HIDUP, SEPERTINYA aku tidak pernah peduli pada nama Mama. Dalam rekaman memoriku, nama itu serupa teman yang pernah kukenal sekali di masa lalu lalu kulupakan lagi karena tidak seberapa penting. Seolah telah diselaputi lumut dan kabut yang timbul saking tidak pernah kukunjungi.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.