Sebab segalanya mungkin tidak akan sama, tapi dari puing-puing reruntuhanlah manusia membangun kota.
Pugas
Sebab segalanya mungkin tidak akan sama, tapi dari puing-puing reruntuhanlah manusia membangun kota.
Sehelai surat retak telah kukirimkan padamu, usai kulewati sekian lama momen menanti perubahan.
Baginya, dengan diledakkannya batok kepala oleh tinjuan peluru, ia justru menang telak.
Sebuah kafe menawarkan masa lalu dengan harga yang fantastis. Dinding kaca besar. Irama musik jazz. Aroma cokelat, dan kopi, dan teh. Mereka berkolaborasi bersama waktu, menghadirkan figur-figur masa lalu.
Kita berdua adalah sepasang, meski tak ditakdirkan di satu tempat, aku percaya kita akan berakhir bersama di tempat yang tepat.
Sebab yang dicarinya adalah hidup. Maka kuberikan itu kepadamu. Yang lebih kekal. Lebih pejal.
Di tepi telaga, seorang lelaki mengais biji-biji kopi masa lalu dari senja yang melarung bersama abu istrinya.
Maka apa itu benar dan apa itu salah, jika kausebut enam sebagai sembilan dan kutunjuk sembilan jadi enam?
Air mata adalah telaga yang tak pernah mati. Dari sana kita curah hujan untuk memadamkan api di hati.
Waktu takkan menunggumu. Jadi, mengapa engkau masih tabah menunggunya peduli?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.