Air mata adalah telaga yang tak pernah mati. Dari sana kita curah hujan untuk memadamkan api di hati.
Air Mata
Air mata adalah telaga yang tak pernah mati. Dari sana kita curah hujan untuk memadamkan api di hati.
Waktu takkan menunggumu. Jadi, mengapa engkau masih tabah menunggunya peduli?
Hidup kita hanya mengandung tiga babak. Di sana, lakonku adalah yang kaupuja, kaulupakan, lalu kaubuang.
Kabar bahwa akan ada angin panas sudah luas tersebar. Mengenai apa itu angin panas, bagaimana wujudnya, aku tidak tahu.
Pada bundaran yang bertengger apik di dinding kamarnya, ada dua puluh empat 'dia' mengitari angka-angka.
Heran, sungguh heran. Puisiku tak pernah sampai diantarkan kepadamu. Entah angin telah berubah jadi tukang pos yang tak lagi amanah, atau justru hatimu yang sudah pindah rumah.
Tolong jangan ada suara-suara, pinta si perempuan. Jangan ada yang mainkan piano tua itu di kepalanya.
Semalam aku bermimpi angka-angka menghilang. Tuan dan nona riang berdendang, mengenang dan menang demi kesenangan.
Kedua perempuan dengan nasib berbeda lantas dipermainkan tangan takdir segera setelah mereka menyeberangi dunia.
Masih segar dalam ingatanku, malam itu, kauseduh rembulan dalam air laut dan kausuguhkan padaku mesra.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.