HARI-HARI PRATIWI SEPANJANG hari kerja tak pernah absen dari kericuhan.
Pratiwi
Fiksi tentang keluarga atau nilai-nilai kekeluargaan.
HARI-HARI PRATIWI SEPANJANG hari kerja tak pernah absen dari kericuhan.
AKU MENGERUTKAN HIDUNG. Seberkas aroma yang terhidu mengusikku. Memunculkan letusan di kepala, seolah sehelai benang telah putus tiba-tiba.
‘NAMA: AI. Umur: 10 tahun. Cita-cita: jadi orang dewasa.'
KUINGAT KAKAK PERNAH MENGGUMAM, "Berarti, sepertinya Ayah memang pake sepatu hak."
SUATU HARI, AKU MENEMUKAN anak-anak dalam tubuh Mak.
SEUMUR HIDUP, SEPERTINYA aku tidak pernah peduli pada nama Mama. Dalam rekaman memoriku, nama itu serupa teman yang pernah kukenal sekali di masa lalu lalu kulupakan lagi karena tidak seberapa penting. Seolah telah diselaputi lumut dan kabut yang timbul saking tidak pernah kukunjungi.
Ketika tinggiku hampir menyamai tanaman buxus yang menamengi rumah tetangga, Ayah gemar mengajakku jalan-jalan malam hari.
Ibu memang tidak menggenggam cemeti, atau sapu lidi untuk dikibaskan ke betis, atau kayu untuk diempaskan ke punggungku. Namun, ada lidah Ibu yang rutin menampari ulu hati.
Sebab ibunya hanya seorang pelacur. Dan Seroja cuma anak haram yang lahir dari rahim pelacur di sebuah rumah bordil. Yang hidupnya ada, semata berasaskan keengganan mucikari untuk menambah dosa dengan tindak pembunuhan. Seroja adalah buah yang bahkan pohonnya pun tak mampu ibunya identifikasi.
Kukuh hatinya memberontak. Tidak. Ia ingin putri dan dirinya sendiri menyesapi kehidupan ini. Ia ingin menyaksikan putrinya keluar dengan selamat dan tertawa-tawa menerima boneka. Menerima rapor nilai yang sempurna. Menerima sepeda baru yang mengkilap. Menerima ponsel yang paling anyar. Memperkenalkan pacar kepadanya. Mendapatkan gaji pertama. Menikah dengan lelaki yang baik. Memiliki anak dan hidup dengan sempurna.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.