"Ibuku Nawang Wulan!" Kalimat itu selalu dilantangkan seorang bocah laki-laki. Setiap pukul delapan pagi, ia keluar dari gubuk berdinding bambu dan beratapkan rerumbai. Menuturkannya pada semua yang dicegatnya saat lewat.
Nawang Wulan
Fiksi tentang keluarga atau nilai-nilai kekeluargaan.
"Ibuku Nawang Wulan!" Kalimat itu selalu dilantangkan seorang bocah laki-laki. Setiap pukul delapan pagi, ia keluar dari gubuk berdinding bambu dan beratapkan rerumbai. Menuturkannya pada semua yang dicegatnya saat lewat.
Sejak malam di mana ibuku memilih keluarga baru bernama Keabadian, aku dan Ayah turut bercerai dan membentuk keluarga baru sendiri-sendiri.
ADA TUMPAH BADAI yang ricuh di luaran, tapi kita asyik berpeluk. Jari-jemari terpaut, senyum-senyum terkembang, dan sepotong lagu ceria ditembangkan anak-anak. Sesekali kau goyangkan tubuh ikuti irama. Lalu gelak tawa pecah membahana.
ALFA TAK TAHU nama perasaan ini. Campuran tergenang dalam kenangan, rindu yang bangsat sekaligus azimat. Sesuatu yang menghangatkan matanya pukul dua pagi, mengingatkan ia pada doa-doa yang abadi di kening hati.
AKU TAHU, ANANDA, konstelasimu tak terbilang jumlahnya. Maka kendati engkau terlahir dari bias sinarku sendiri, bukanlah hakku menuntutmu setia di sini, selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati.
Sejak ditinggal ibunya pergi melanjutkan kehidupan di bawah tanah dan alam lain yang kekal, Mala kehilangan semangat hidupnya sendiri. Ibunya adalah tonggak yang menahannya agar tidak jatuh. Kini, usai tonggak itu lenyap, Mala pun ambruk jadi mayat hidup. Kamar menjadi tempatnya mendekam sepanjang hari, membaca buku yang berulang kali dibaca selama bertahun-tahun, atau duduk memeluk … Lanjutkan membaca Malapetaka Malaikat
Sebuah kafe menawarkan masa lalu dengan harga yang fantastis. Dinding kaca besar. Irama musik jazz. Aroma cokelat, dan kopi, dan teh. Mereka berkolaborasi bersama waktu, menghadirkan figur-figur masa lalu.
Tangan waktu yang terus berputar dalam irama konstan menghantarkanku pada dua kata: Enam Bulan. Masa yang kumiliki sampai bom waktu dalam diri meledak dan menghancurkanku sendiri menjadi jutaan serdak-serdak kecil.
[Sebuah Lipogram] Inilah konsekuensi dari sebuah harapan mustahil, yang berlangsung dalam tiga babak.
Bukankah, rasa takut adalah hal yang manusiawi? Orang-orang takut pada minimal satu hal dalam hidup mereka, dengan kadar yang beragam.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.