JANTUNG OMI BERDEBAR riuh. Rumah adalah hal amat pribadi bagi setiap manusia yang ia tahu. Maka jika Pi sudi mengundangnya tinggal bersama, apakah rasa yang ia pendam ini berbalas?
Day 26 – Vestibula
JANTUNG OMI BERDEBAR riuh. Rumah adalah hal amat pribadi bagi setiap manusia yang ia tahu. Maka jika Pi sudi mengundangnya tinggal bersama, apakah rasa yang ia pendam ini berbalas?
SAAT SEMUA ORANG bergempita di bulan yang disebut bulan lahir sang pengasih, Delta sibuk membungkus kepala, mengasihani diri sendiri.
BAGI XI, ZETA ITU DEWA. Ia ditakdirkan selamat dari mulut segala kiamat.
DENGAN BIBIR BERHIASKAN senyuman palsu, ia pandang Sin. Gadis itu masih cantik, tapi tampak kaku melayani uluran tangannya, juga sibuk menutupi perut yang bentuknya bahkan belum terlihat gendut.
BINTANG-BINTANG BERJATUHAN dari matanya, membelah gulita. Jemari Mu memungut mereka untuk ia gantung di plafon, dinding, lemari, dan cermin.
ADA TUMPAH BADAI yang ricuh di luaran, tapi kita asyik berpeluk. Jari-jemari terpaut, senyum-senyum terkembang, dan sepotong lagu ceria ditembangkan anak-anak. Sesekali kau goyangkan tubuh ikuti irama. Lalu gelak tawa pecah membahana.
NU TAK PERCAYA mitos. Namun, semua berubah saat bayinya nyaris meninggal, sehari usai perjumpaannya dengan kuyang. Banyak kuyang.
SEJAK KETAHUAN MERUNDUNG Alpha di masa lalu, Beta kehilangan kedamaian hidup. Ujaran kebencian tetangga menghujaninya tanpa ampun.
ALFA TAK TAHU nama perasaan ini. Campuran tergenang dalam kenangan, rindu yang bangsat sekaligus azimat. Sesuatu yang menghangatkan matanya pukul dua pagi, mengingatkan ia pada doa-doa yang abadi di kening hati.
Tanda-tanda sang ibu menjelma nekropolis sudah lama hadir. Hanya si bungsu-lah yang serempak buta, akibat keterusan dipapari mimpi kosong sendiri, tentang kekayaan, tentang kejayaan, tentang kerajaan, tentang kelayakan ...
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.