‘NAMA: AI. Umur: 10 tahun. Cita-cita: jadi orang dewasa.'
Eccedentesiast
Prosa dalam berbagai genre.
‘NAMA: AI. Umur: 10 tahun. Cita-cita: jadi orang dewasa.'
KUINGAT KAKAK PERNAH MENGGUMAM, "Berarti, sepertinya Ayah memang pake sepatu hak."
BAGI NERISSA, HIDUPNYA adalah sampah.
SUATU HARI, AKU MENEMUKAN anak-anak dalam tubuh Mak.
DI TIKUNGAN KEENAM, aku akan menemui anak tangga pertama.
AKU MENYIBAK SELIMUT dan yang kudapati adalah gigil yang ganjil. Padahal ada bau pembakaran dari sisa asap tembakau yang terjebak dalam kamar semalaman.
KUTAHU, HIDUP INI DIGELUNG DURJANA bernama waktu. Yang menciptakan tangan-tangan tak tampak untuk menjauhkan taut atau menautkan yang jauh. ‘Ada’ bisa saja disulapnya ‘tiada’, sebab tiada yang akan selamanya ada.
Jauh sebelum peperangan pecah dan meruntuhkan mereka hingga harus hilang dalam sejarah, tanah di tengah-tengah pulau surgawi pernah punya cerita yang indah.
SEUMUR HIDUP, SEPERTINYA aku tidak pernah peduli pada nama Mama. Dalam rekaman memoriku, nama itu serupa teman yang pernah kukenal sekali di masa lalu lalu kulupakan lagi karena tidak seberapa penting. Seolah telah diselaputi lumut dan kabut yang timbul saking tidak pernah kukunjungi.
"Aku tidak pernah mati, tidak seorang pun. Tapi aku pernah melewati dermaga di mana orang-orang yang kausebut mati. Di dermaga itulah, kusaksikan, kita sebenarnya tidak memiliki akhir."
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.