"SELAMAT DATANG DI KOTA MEMORIAM, wahai Jiwa Baru. Siapakah namamu sebelum mati?"
Kota Memoriam
"SELAMAT DATANG DI KOTA MEMORIAM, wahai Jiwa Baru. Siapakah namamu sebelum mati?"
IBU PERNAH BERTANYA, KENAPA Ayah ragu setan-setannya sudah pergi. Kala itu Ayah pulang dengan rambut gundul sebagian, dicukur keluarga klien yang kesal lantaran Ayah menampar-nampar anak mereka.
SATU KEPALA KECIL MELONGOK. Dua kepala. Tidak, tiga—empat—lima kepala! Mereka lebih besar sedikit daripada semut, tapi wujudnya manusia. Semuanya mematri pandangan mereka—mata yang kecil-kecil seperti biji wijen—ke arah Mia.
Jauh sebelum peperangan pecah dan meruntuhkan mereka hingga harus hilang dalam sejarah, tanah di tengah-tengah pulau surgawi pernah punya cerita yang indah.
"Aku tidak pernah mati, tidak seorang pun. Tapi aku pernah melewati dermaga di mana orang-orang yang kausebut mati. Di dermaga itulah, kusaksikan, kita sebenarnya tidak memiliki akhir."
Ketika tinggiku hampir menyamai tanaman buxus yang menamengi rumah tetangga, Ayah gemar mengajakku jalan-jalan malam hari.
Ibu memang tidak menggenggam cemeti, atau sapu lidi untuk dikibaskan ke betis, atau kayu untuk diempaskan ke punggungku. Namun, ada lidah Ibu yang rutin menampari ulu hati.
Maka tak peduli telah berapa kali langit hitam menjadi purnama, aku menyusun pelita sebutir demi sebutir, yang kupetik dari percik bintang kecil di bahu bimasakti, untuk kurajut jadi selimut demi menghangatkannya dari kuyup dan dingin. Begitu selimutku rampung tiga bulan kemudian, kubungkus ia dalam kedamaian. Pertemuan kami ditutup dengan pelukan dan tepukan yang menenangkan.
Kala itu kulupa bahwa dunia selalu memberlakukan inversi. Bumi ini justru berjalan melalui perputaran. Tiada satu pun yang bertahan selamanya di puncak. Sebab tidak sampai dua tahun sejak pembicaraan itu, apa yang kutampik malah menampar hidupku sekaligus.
Siapa bilang uang tidak mampu membeli waktu? Sisa hidupmu pun bisa kaugadaikan di sini. Baik yang girang, maupun yang malang. Asal kaurelakan segenap masa usiamu didedah dan dibedah.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.