Pada bundaran yang bertengger apik di dinding kamarnya, ada dua puluh empat 'dia' mengitari angka-angka.
Antara
Pada bundaran yang bertengger apik di dinding kamarnya, ada dua puluh empat 'dia' mengitari angka-angka.
Heran, sungguh heran. Puisiku tak pernah sampai diantarkan kepadamu. Entah angin telah berubah jadi tukang pos yang tak lagi amanah, atau justru hatimu yang sudah pindah rumah.
Tolong jangan ada suara-suara, pinta si perempuan. Jangan ada yang mainkan piano tua itu di kepalanya.
Masih segar dalam ingatanku, malam itu, kauseduh rembulan dalam air laut dan kausuguhkan padaku mesra.
Sebab kepongahannya membuat dia tak percaya. Maka, datanglah kehancuran yang dinafikannya.
Perempuan itu iri pada ikan yang bebas berenang-renang tanpa perlu uang. Ketika ikan mengajaknya ikut serta, dia merasa seperti pulang.
Sepasang mata yang mengintip di tengah kesunyian malam itu kutahu adalah milikmu. Milikku. Demi bisa lahir baru, kuenyahkan engkau bersama abu.
Sejauh mana kita hendak terbang? Sementara di tepian tebing, bisa kita lihat seorang lelaki tua menggelandang dan terbuang.
Di dunia tanpa kabut dan capung, sosok ibu peri pun berevolusi.
Demi mengantarkan mentari pertama pulang ke haribaan, kau rela menanggung beban seberat dunia.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.