Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Day 16 – Piatu

Tanda-tanda sang ibu menjelma nekropolis sudah lama hadir. Hanya si bungsu-lah yang serempak buta, akibat keterusan dipapari mimpi kosong sendiri, tentang kekayaan, tentang kejayaan, tentang kerajaan, tentang kelayakan ...

Day 15 – Gerimis

KOTA KITA ADALAH kota mati. Di lorong-lorong yang gulita kutemui seonggokan sampah dari almari memorimu. Mereka yang dulunya sering kautimang sayang, kini usang usai kautendang buang.

Day 14 – Senyum

INFO PENTING! Sudah Saatnya Kita Kembalikan Senyum ke Muka Bumi! Fakta: Nenek Moyang Kita Dahulu Murah Senyum! Apa Itu Senyum?

Day 13 – Selamat

DI DALAM PERUT Surti ada bom waktu. Semuanya akan terbongkar, cepat atau lambat. Jadi, daripada segalanya terlambat, ia kumpulkan ayah dan ibunya sambil menangis tersengguk-sengguk.

Day 12 – Ramé

INI KALI KESEKIAN aku melihatnya di tengah ingar-bingar. Kami tak saling kenal. Hanya sekian perjumpaan itu mendorongku menyunggingkan senyum dari jauh. Ia membalas.

Day 11 – Mulut

Keesokan harinya, kutemukan mulutku ada di antara ribuan mulut pemuntah gula. Sedang aku yang asli terseok di keramaian, ingin berteriak pada siapa pun untuk tidak turut tergoda, tapi sudah tak lagi punya suara.

Day 10 – Jemari

TAK TIK TUK bukan bunyi sepatu kuda. Melainkan suara pertempuran. Sudah bukan lagi masanya adu jotos langsung jika apa pun bisa diselesaikan serba virtual. Bahkan ada yang meramalkan, perang dunia kedelapan akan dilaksanakan para jari.

Day 9 – Epitome

SAAT AKU MELEBUR menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kamu memahaminya.

Day 8 – Angkara

TANGAN-TANGAN BESAR akhirnya bergerak. Usai bersikap tabah selama bertahun-tahun, hari ini mereka lakukan eksekusi. Menyapu pergi dari almari, rak-rak buku berlaci, juga kulkas yang biasanya padat isi, sewujud nama tua penjaga kejujuran.

Day 4 – Tertampar

RUPANYA TAK SELAMANYA ditampar omongan sendiri berakhir merugikan. Ada kalanya ludah mesti ditelan lagi biar kerongkongan tak terasa kering, kalau memang tidak ada air.

Day 3 – Desire

DARI RATUSAN KEINGINAN yang berkelindan, berenang-renang, dan jumpalitan dalam rongga benak Eka, 99% di antaranya diisi wajah Dwi.

Day 2 – Sabitah

AKU TAHU, ANANDA, konstelasimu tak terbilang jumlahnya. Maka kendati engkau terlahir dari bias sinarku sendiri, bukanlah hakku menuntutmu setia di sini, selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati. 

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑