ADA TUMPAH BADAI yang ricuh di luaran, tapi kita asyik berpeluk. Jari-jemari terpaut, senyum-senyum terkembang, dan sepotong lagu ceria ditembangkan anak-anak. Sesekali kau goyangkan tubuh ikuti irama. Lalu gelak tawa pecah membahana.
Day 20 – Hygge
ADA TUMPAH BADAI yang ricuh di luaran, tapi kita asyik berpeluk. Jari-jemari terpaut, senyum-senyum terkembang, dan sepotong lagu ceria ditembangkan anak-anak. Sesekali kau goyangkan tubuh ikuti irama. Lalu gelak tawa pecah membahana.
NU TAK PERCAYA mitos. Namun, semua berubah saat bayinya nyaris meninggal, sehari usai perjumpaannya dengan kuyang. Banyak kuyang.
SEJAK KETAHUAN MERUNDUNG Alpha di masa lalu, Beta kehilangan kedamaian hidup. Ujaran kebencian tetangga menghujaninya tanpa ampun.
ALFA TAK TAHU nama perasaan ini. Campuran tergenang dalam kenangan, rindu yang bangsat sekaligus azimat. Sesuatu yang menghangatkan matanya pukul dua pagi, mengingatkan ia pada doa-doa yang abadi di kening hati.
SAAT AKU MELEBUR menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kamu memahaminya.
KABAR YANG KUSUGUHKAN di atas baki pada keluargaku ternyata beracun. Mentransfigurasi sosok ibu jadi Medusa.
TAWAMU TERBIT SAAT kuungkap ketidakrelaan. "Tenang. Kau kilat, dan aku guruhnya. Kita sepaket, tak terpisahkan."
ENTAH KAPAN TERAKHIR kali hal yang hangat berkunjung ke rumah Pi, selain air mata dalam berbagai macam warna.
DARI RATUSAN KEINGINAN yang berkelindan, berenang-renang, dan jumpalitan dalam rongga benak Eka, 99% di antaranya diisi wajah Dwi.
Di tepi telaga, seorang lelaki mengais biji-biji kopi masa lalu dari senja yang melarung bersama abu istrinya.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.