Perempuan itu iri pada ikan yang bebas berenang-renang tanpa perlu uang. Ketika ikan mengajaknya ikut serta, dia merasa seperti pulang.
Ikan
Perempuan itu iri pada ikan yang bebas berenang-renang tanpa perlu uang. Ketika ikan mengajaknya ikut serta, dia merasa seperti pulang.
Hidup tak ubahnya permainan hegemoni dualisme beserta lapisan spektrumnya yang saling bergantian menaiki jungkat-jungkit. Gelap dan terang, malam dan siang, adalah konstruksi keberadaan. Tanpa salah satunya, mustahil hidup ini berjalan.
Ia memahaminya: pagi ini telah menentukan nasib barunya. Gerbang barunya pun membuka. Kini, ia bisa mengakhiri segalanya.
Yang kutahu, aku butuh dia, dan kurasa, dunia yang kejam dan sinting akan melunak dan jadi lebih waras kalau ia membersamaiku; ada di pihakku, di jalan ini.
Bagaimana rasanya bahagia? Kata anak tetangga, aku belum pernah merasakannya karena belum pernah dipeluk. Jadi, bagaimana rasanya dipeluk?
Sosok itu adalah sewujud mimpi Farah di siang bolong. Mimpi yang seharusnya hanya jadi mimpi. Yang seharusnya hanya bisa dilihat dalam mimpi dan bayang-bayang. Tidak dalam jarak dua meja, apalagi dua inci.
Kamu tahu, kenapa dalam Supernova, yang jadi peretas kunci itu laki-laki, sementara peretas gerbangnya perempuan?
Pi punya kewaspadaan tingkat tinggi. Namun, segalanya tidak berarti hanya dalam satu waktu di mana Pi lupa, bahwa sebaiknya dia tidak menilai orang hanya dari penampilan.
Tangan waktu yang terus berputar dalam irama konstan menghantarkanku pada dua kata: Enam Bulan. Masa yang kumiliki sampai bom waktu dalam diri meledak dan menghancurkanku sendiri menjadi jutaan serdak-serdak kecil.
Seseorang pernah bertanya padaku, manusia macam apa yang membuatku iri, dan kujawab, “Aku iri pada manusia yang memiliki kapal.”
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.